Teori Perancangan Cerdas

Posted: 14 Agustus, 2010 in ARTIKEL

Jika anda melihat suatu program komputer, program ini memerlukan keberadaan seorang pembuat program. Jika anda menyaksikan sebuah mobil, mobil tersebut memerlukan keberadaan perancangnya. Jika anda melihat informasi biologis dalam sel, maka anda wajib berkata bahwa informasi ini memerlukan Pencipta yang telah menciptakan program berupa gen-gen, untuk menciptakan protein dan organ-organ. Adalah wajib bagi anda berkesimpulan demikian. (Werner Gitt, Ahli Biologi)

Amerika Serikat memang negeri yang menakjubkan! Seringkali kita dibuat kesal oleh tingkahnya yang arogan dan semena-mena dalam pergaulan internasional, namun dari sana jugalah kerap muncul secercah cahaya yang membuat kita berharap akan adanya perubahan positif terhadap kehidupan dunia.

Di negeri ‘Uwak Sam’ baru-baru ini sedang ramai-ramainya kontroversi teori perancangan cerdas yang nyaris meluluhlantakkan sendi-sendi bangunan teori evolusi Darwin yang telah mengakar dan menjadi landasan bagi cabang-cabang ilmu pengetahuan alam ratusan tahun lamanya. Sebagaimana diketahui bahwa teori evolusi Darwin menyatakan bahwa kehidupan ini muncul akibat peristiwa alamiah biasa, tanpa ada unsur kesengajaan dan melalui proses seleksi alam. Dengan kata lain, seluruh makhluk hidup ini muncul secara kebetulan. Dengan cara ini, Darwin ingin memisahkan antara kekuasaan Tuhan dari ilmu pengetahuan, dengan dalih bahwa perkembangan sains mestilah diarahkan seobyektif mungkin tanpa adanya campur tangan agama dan kitab sucinya. Ribuan ilmuwan pun bekerja keras dalam proyek-proyek penelitiannya untuk membuktikan kebenaran teori evolusi.

Namun semakin alam ini diteliti maka yang ditemukan adalah adanya perancangan besar di setiap bagian-bagian terkecil alam ini. Misalnya struktur DNA yang dapat berisi informasi genetik makhluk hidup yang jika ditulis akan memenuhi 900 jilid buku. Contoh lain, sebelum abad ke-20, sains astronomi menyatakan bahwa jagad raya ini tercipta secara kebetulan sesuai dengan pemikiran materialisme para filsuf Yunani kuno. Lalu muncul teori dentuman besar yang ditemukan para ilmuwan sesuai fakta-fakta yang ada. Teori ini mengungkap bahwa alam semesta ini memiliki awal, yakni saat penciptaannya, dan terdapat keseimbangan yang luar biasa cermat dan peka yang melindungi kehidupan manusia. Maka sangatlah naif bila kesemua hal ini terjadi secara kebetulan. Kata Albert Einstein, “Tuhan tidak bermain dadu!”

Kelompok pengusung teori perancangan cerdas di AS ini terdiri dari para ilmuwan dari berbagai cabang sains alam seperti biologi, biokimia, mikrobiologi, medis dan lain sebagainya. Diawali dari keberhasilan mereka memasukkan kurikulum teori perancangan cerdas di sebuah sekolah di AS menggusur keberadaan teori evolusi Darwin. Lalu berlanjut dengan perdebatan-perdebatan ilmiah dengan kelompok evolusionis yang gusar akan derap langkah kelompok ini. Tetapi sebenarnya bukanlah substansi teori perancangan cerdas yang mereka gusarkan, namun lebih kepada implikasi yang akan berlaku jika teori ini mendapat tempat dan diakui di tengah masyarakat. Mereka yang memegang teguh ideologi sekularisme khawatir bahwa ini adalah manuver kaum puritan untuk kembali memonopoli sistem pendidikan dan menyebarkan cara pandang ‘kitab suci’ dalam pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Ini terjadi di AS, negeri sekuler. Bagaimana dengan Indonesia, sebuah negeri yang mengaku beragama dan berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa? Adakah para ilmuwan kita tergerak untuk mengikuti rekan-rekan mereka di AS? Ataukah masih saja terbuai dengan teori evolusi dan percaya bahwa nenek moyang kita adalah seekor beruk?

He he, setelah mengetahui kontroversi ini, jadi ingat penggalan serial Friends season 2 episode The One where Heckles Dies. Bagaimana seorang Ross Geller yang punya Ph. D paleontologi dipermalukan oleh sahabatnya Phoebe Buffay, seorang tukang pijat yang juga musikus amatir dalam perdebatan mereka tentang evolusi:

Phoebe (P) : O oh, it’s a scary scientist man…

Ross (R) : OK Phoebe, this is it. In this briefcase I carry actual scientific facts. A briefcase of facts, if you will. Some of these fossils are over 200 million years old.

P: Before you even start, I’m not denying evolution. It’s just one of the possibilities.

R: It’s the only possibility!

P: Ross, could you just open your mind, like, this much? Didn’t the brightest minds in the world believe the Earth was flat? And up till 50 years ago, you thought the atom was the smallest thing until you split it open and this whole mess of crap came out. Are you telling me that you are so unbelievably arrogant that you can’t admit that there’s teeny tiny possibility that you could be wrong about this?

R: …………..there might be…a teeny…tiny…possibility.


Sumber : http://fazilet.blogspot.com/2006/01/teori-perancangan-cerdas.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s