BEDA BOS DENGAN PEMIMPIN

Posted: 15 Januari, 2009 in ARTIKEL


Bagaimana seseorang dalam menghadapi pertanggung-jawaban, akan memberikan batasan yang jelas antara seorang pemimpin dengan seorang bos. Walau keduanya memahami, semakin tinggi posisi dan kewenangan yang dimiliki seseorang dalam suatu organisasi, semakin besar pula tanggung-jawab yang harus dipikulnya, narnun terdapat perbedaan yang nyata bagaimana seorang pemimpin menerima tanggung-jawab dan seorang bos menghindarinya. Pat Heim dan Elwood Chapman, bahkan menjadikan karakteristik pemimpin ialah orang yang senang mengambil tanggung-jawab yang lebih besar, berani mengambil resiko yang lebih besar dan berani pula mempertanggung-jawabkannya. Hal ini, menurut mereka dalam bukunya Learning to Lead, membedakan kualitas seseorang menjadi seorang pemimpin, diatas peran seorang manajer.

Hal ini mudah difahami, mengapa seorang pemimpin cenderung mengambil tanggung-jawab, terutama bila ia telah memiliki visi, sebuah gambaran cita-cita yang akan ditujunya. Visi, inilah yang akan menggerakkan seorang pemimpin untuk mengambil peran yang lebih besar, sekaligus tanggung-jawab yang leblh besar pula. Visi tidak mungkin tercapai bila organisasi, lembaga atau perusahaan yang dipimpinnya tidak bergerak maju. Pergerakan ini, menuntut mobilitas, membutuhkan sumberdaya yang lebih besar untuk membuka peluang yang besar. Sekaligus, mendatangkan tantangan yang besar, dan resiko yang lebih tinggi. Seorang pemimpin, akan mengambil tanggung-jawab itu.

Seorang pemimpin cenderung mengambil tanggung-jawab lebih besar, sekaligus resiko lebih besar, karena ia “harus” mewujudkan visinya. Dengan visinya, akan memobilisasi pengikutnya untuk mewujudkan visinya. Ia akan kerahkan seluruh kemampuannya untuk semua itu, mengorganisasikan sumberdaya yang dimilikinya, untuk merealisasikan visinya. Karenanya pula, seorang pemimpin yang memiliki visi tidak akan pemah merasa khawatir atas berbagai “kegagalan” yang dialami, selama ia melihat hal itu sebagai proses pembelajaran untuk menuju terwujudnya visi. Secara keseluruhan, ia melihat kegagalan–kekalahan sebagai fluktuasi dan sebuah grafik dengan kecenderungan yang terus mendekat pada tujuannya. Karena itu, seorang pemimpin tidak pernah takut untuk memikul tanggung jawab atas sebuah kegagalan, apalagi lari meninggalkannya.

Keberanian seorang pemimpin mengambil resiko, tentu saja bukan tanpa perhitungan. Secara formal, level seorang pemimpin dalam sebuah organisasi berada diatas seorang manejer. Karenanya, seorang pemimpin setidaknya memahami aspek manajerial, seperti perencanaan, pengorganisasian, maupun pengawasan dan pengendalian sebuah organisasi dan kegiatannya. Tanpa kemampuan manajerial yang baik, seorang pemimpin yang memiliki visi harus didukung manajer yang mumpuni, sehingga dalam upaya mewujudkan visinya ia bergerak secara sistematis, terencana dan penuh perhitungan.

Hal ini, bertolak belakang dengan seorang Bos. Bos menduduki posisi tinggi, semata-mata karena formalitas yang mungkin dicapainya dengan sesuatu yang diluar kemampuan (kompetensinya). la berupaya mempertahankan kedudukan, “previlese” dan keistimewaannya, karena itu ia tidak menyukai perubahan. Ia akan berupaya mempertahankan keadaan yang telah ada. Ia tidak mebutuhkan manejer yang akan mendukungnya, karena Ia melihat mereka justru sebagai ancaman yang potensial bagi kedudukannya

Sikap inilah yanq menyebabkan seorang bos, tidak menyukai tanggung-jawab kegagalan, apalagi bila hal itu berarti mempertanggung-jawabkan kegagalan, resiko atau suatu permasalahan. Pertanggung-jawaban berarti kelemahan bagi karirnya, hilangnya keistimewaan, terancamnya kehormatan, Karena itulah ia tidak menyukai perubahan walau itu berarti kemajuan bagi organisasinya. Ia berupaya mempertahan status qua.

Seorang bos tidak memiliki visi, ia hanya menjalankan apa yang telah direncanakan dan disepakati organisasi. Rencana kerja disusun oleh para manager dan stafnya. la akan membiarkan semua itu berjalan. Bila berjalan baik, ia akan dapat tampil sebaik yang dinginkannya. Bila berjalan tersendat, macet ataupun gagal, dengan mudah ia melemparkan tanggung-jawab kepada bawahannya. Bos melemparkan beban ke bawah, dan ia tidak menyukai tanggung-jawab, karena itu Ia menghindarinya…

MUHAMMAD ALDI, SE. *(take of:pakguruonline.pendidikan.net

Komentar
  1. bocahbancar mengatakan:

    Betul Sekali..

    Seorang pemimpin memikul tanggung jawab dari apa yang dia pikirkan dan dia cita-citakan, tentu saja hal ini akan lebih besar tanggung jawabnya daripada seorang bos yang memang melakukannya karena beban secara fungsional..

  2. silmi mengatakan:

    Bahasa gaul sekarang ini lebih cenderung membuat seseorang suka atau senang jika dipanggil BOS. Gimana tuuu???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s